Slider[Style1]

Style2

Style3[OneLeft]

Style3[OneRight]

Style4

Style5

Tujuh ribu lima ratus rupiah adalah harga untuk sebungkus nasi dan sepasang butir telur dibumbui bumbu bali yang saya beli di warung langganan saya, Sinchan namanya. Warung itu memang selain saya punya banyak pelanggan yang lain. Ga heran jika disaat warung-warung yang lain masih banyak sisanya sedangkan warung itu hampir habis. Memang sih warung langganan saya itu menyediakan berbagai macam masakan, jadi ya wajarlah punya banyak pelanggan. Nah dari itu bisa dibilang karena kehabisanlah alasan kenapa saya memilih lauk telur sebagai santapan makan malam. Tapi tak apalah. Langsung santap aja. Suap demi suap pun saya lalui. Sungguh nikmat malam itu. Entah mungkin karena saya lapar, atau memang masakannya benar-benar nikmat, atau bahkan saya jarang makan makanan itu sebelumnya. Yang jelas saya benar-benar lahap waktu itu. Namun entah kenapa tinggal beberapa suap terakhir nafsu makan saya mulai hilang. Saya memilih untuk menghentikan makan saya, dan saya merelakan nasi itu dimakan alam. Sungguh malang nasibmu. Bukannya saya tega atau bagaimana, namun itu adalah sebuah pilihan, dan saya memilih untuk itu. So, I'm so sorry before. Saya ga tahu kenapa. Awalnya lahap dan akhirnya hilang nafsu. Saya lupa satu hal. Saya lupa bahwa sebelumnya saya sudah makan lebih dari satu kali. Dan saya juga lupa kalau siang seharian saya berpelualang sama teman saya, Geleng panggilannya. Singkat cerita siang itu kami kelaparan dan kami cari warung yang sedia makanan. Alhasil kami menemukan sebuah warung dimana menyediakan mie rebus dan nasi dan kami memakannya. Pun sebelumnya, kami sempat makan dirumahnya geleng. Terjawab sudah...

About Unknown

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments:

Post a Comment


Top